Terdepan dalam Pelayanan Kesehatan
Perempuan, Perinatal dan Anak

RSAB Harapan Kita

RSAB Harapan Kita Memperingati Hari Anak Nasional 2018

 

Hari Anak Nasional (HAN) jatuh setiap tanggal 23 Juli dilaksanakan sebagai upaya pemenuhan hak anak atas hak hidup, tumbuh,  kembang dan berpartisipasi secara wajar sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. 

 Sebagai upaya dalam mempersiapkan generasi unggul di masa depan, peringatan Hari Anak Nasional Tahun 2018 diusung dengan tema “Aku Anak Indonesia, Aku Anak GENIUS (Gesit, Empati, Berani, Unggul dan Sehat), Tumbuh Kembang Optimal.

Tema ini diangkat sebagai bentuk pemenuhan tumbuh kembang dan perlindungan anak dengan membangun gerakan bersama yang melibatkan semua pihak untuk menjadikan anak Indonesia menjadi GENIUS (Gesit, Empati, Berani, Unggul dan Sehat) dan memiliki Tumbuh Kembang Optimal.

RSAB Harapan Kita merupakan Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kesehatan yang khusus memberikan pelayanan kesehatan Ibu dan Anak. Bentuk dukungan yang dilakukan dalam rangka memperingati HAN dengan menyelenggarakan beberapa rangkaian kegiatan seperti talkshow, skrining tumbuh kembang anak bagi anak usia 3 bulan s.d 5 tahun dan pemeriksaan gigi.

“Tiga hal penting yang dapat membantu adalah Asah, yaitu di mana stimulasi diajarkan untuk mengajarkan keterampilan baru. Kedua, Asih yang artinya perhatian dari orang tua dan yang ketiga yaitu Asuh di mana segala kebutuhan anak dapat terpenuhi,” ujar dr. Eva Devita Harmoniati, SpA (K) pada acara Peringatan Hari Anak Nasional 2018 di RSAB Harapan Kita, Senin, 23 Juli 2018.

Menurut Eva, pendeteksian tumbuh kembang anak sangatlah penting terutama pada dua atau tiga tahun pertama kehidupan anak. “Pada usia dua sampai tiga tahun pertama jaringan sel-sal syaraf sedang berkembang, kalau berkembang dengan baik maka sel-sel syaraf akan tumbuh dengan baik.”

“Untuk mengetahui apakah seorang anak mengalami keterlambatan atau gangguan misalnya pada kemampuan bahasa jika pada usia 2 tahun kata bermakna yang mereka ucapkan tidak banyak, misalnya semua hal dipanggil mama,” ujar Eva. “Atau misalnya pada usia 6 bulan mereka belum bisa melakukan kontak mata dengan orang lain.”

Jika itu yang terjadi, maka orang tua perlu melakukan stimulasi pada anak. “Misalnya untuk stimulasi kognitif, usahakan mengajarkan anak dengan menyontohkan menyebut kata-kata secara jelas dan utuh. Jangan dipotong-potong kalimatnya."

"Tidak perlu banyak, satu atau dua kalimat saja sudah cukup. Selain itu, biasakan juga untuk bercerita kepada anak secara singkat selama dua sampai tiga menit, yang penting anak sering mendengar kata-kata,” ujar Annelia Sari Sani, S. Psi, Psikolog.

Yang terpenting adalah oruang tua harus memahami tentang perkembangan yang harus dicapai oleh anak mereka. Agar masalah tumbuh kembang anak bisa ditangani sejak dini dan penanganan tumbuh kembang anak ini memerlukan kerjasama antara dokter dengan keluarga agar hasilnya optimal