{"id":520,"date":"2022-07-11T07:46:01","date_gmt":"2022-07-11T07:46:01","guid":{"rendered":"https:\/\/rsabhk.co.id\/wp26112024\/2022\/07\/11\/kekhawatiran-tentang-cacar-monyet\/"},"modified":"2025-05-31T21:11:56","modified_gmt":"2025-05-31T14:11:56","slug":"kekhawatiran-tentang-cacar-monyet","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/rsabhk.co.id\/en\/artikel-kesehatan\/kekhawatiran-tentang-cacar-monyet\/","title":{"rendered":"KEKHAWATIRAN TENTANG CACAR MONYET"},"content":{"rendered":"<h1 class=\"wp-block-heading\">KEKHAWATIRAN TENTANG CACAR MONYET<\/h1>\n\n\n\n<p><strong>Cacar monyet<\/strong> atau <strong>monkeypox<\/strong> menjadi perhatian global setelah kasus pertamanya muncul di luar Afrika pada pertengahan 2022. Meski bukan penyakit baru, monkeypox kini menyebar lebih luas dan menimbulkan kekhawatiran karena cara penularannya yang mirip dengan penyakit menular lain melalui kontak langsung dan droplet.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Apa Itu Cacar Monyet?<\/h2>\n\n\n\n<p><strong>Cacar monyet<\/strong> adalah penyakit menular akibat infeksi virus monkeypox yang termasuk dalam kelompok <em>Orthopoxvirus<\/em>, mirip dengan virus penyebab cacar air. Awalnya, penyakit ini ditularkan dari hewan ke manusia\u2014seperti monyet, tupai, atau tikus yang terinfeksi\u2014melalui gigitan atau cakaran.<\/p>\n\n\n\n<p>Namun, virus ini juga <strong>bisa menular antar manusia<\/strong> melalui:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Percikan air liur (droplet)<\/li>\n\n\n\n<li>Kontak langsung dengan luka atau ruam kulit<\/li>\n\n\n\n<li>Benda yang terkontaminasi seperti pakaian atau seprai<\/li>\n\n\n\n<li>Kontak fisik berkepanjangan<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Penyebaran Global dan Status Waspada<\/h2>\n\n\n\n<p>Kasus pertama ditemukan pada kera pada tahun 1958, dan infeksi pada manusia pertama kali tercatat tahun 1970 di Afrika. Saat ini, WHO dan CDC mencatat penyebaran di lebih dari 30 negara. Hingga 13 Juni 2022, tercatat <strong>1.678 kasus konfirmasi di 35 negara<\/strong>. CDC bahkan menaikkan <strong>travel warning<\/strong> ke level 2 untuk penyakit ini, tepat di bawah Covid-19.<\/p>\n\n\n\n<p>Meski belum ada laporan kasus di Indonesia, penting untuk tetap <strong>waspada dan melakukan pencegahan<\/strong> dini.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Gejala Cacar Monyet<\/h2>\n\n\n\n<p>Menurut <strong>dr. Nanny Shoraya, Sp.KK<\/strong>, penyakit ini memiliki dua fase gejala:<\/p>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">1. Fase Prodromal (5 hari pertama)<\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Demam tinggi<\/li>\n\n\n\n<li>Sakit kepala<\/li>\n\n\n\n<li>Nyeri punggung dan otot<\/li>\n\n\n\n<li>Lemas<\/li>\n\n\n\n<li>Pembesaran kelenjar getah bening (leher, ketiak, selangkangan)<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h3 class=\"wp-block-heading\">2. Fase Erupsi (3 hari setelah demam)<\/h3>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Ruam kulit mulai dari wajah lalu menyebar ke tangan, kaki, alat kelamin<\/li>\n\n\n\n<li>Ruam berkembang dari <strong>bintik merah \u2192 lepuh berisi cairan (lentik) \u2192 keropeng<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li>Proses ini berlangsung sekitar <strong>10\u201321 hari<\/strong><\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<blockquote class=\"wp-block-quote is-layout-flow wp-block-quote-is-layout-flow\">\n<p>Pasien dianggap tidak menularkan lagi jika sudah tidak ada lenting baru dan semua ruam mengering membentuk keropeng yang mengelupas dengan sendirinya.<\/p>\n<\/blockquote>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Siapa yang Rentan?<\/h2>\n\n\n\n<p>Kelompok dengan risiko lebih tinggi terkena cacar monyet atau mengalami gejala berat meliputi:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Anak-anak di bawah 8 tahun<\/li>\n\n\n\n<li>Wanita hamil<\/li>\n\n\n\n<li>Lansia<\/li>\n\n\n\n<li>Orang dengan <strong>sistem imun lemah<\/strong> (imunokompromais)<\/li>\n\n\n\n<li>Pasien dengan <strong>penyakit kronis atau keganasan<\/strong><\/li>\n\n\n\n<li>Mereka yang sedang menjalani pengobatan menekan kekebalan tubuh<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pengobatan Cacar Monyet<\/h2>\n\n\n\n<p>Saat ini <strong>belum ada obat khusus<\/strong> untuk cacar monyet. Penanganan bersifat <strong>simptomatik<\/strong> atau suportif, seperti:<\/p>\n\n\n\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Istirahat total<\/li>\n\n\n\n<li>Konsumsi cukup cairan dan nutrisi<\/li>\n\n\n\n<li>Obat antivirus (pada kasus tertentu)<\/li>\n\n\n\n<li>Rawat inap jika gejala berat<\/li>\n<\/ul>\n\n\n\n<p><strong>Karantina dan pembatasan kontak sosial sangat dianjurkan<\/strong> selama masih muncul gejala untuk mencegah penularan ke orang lain.<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Pencegahan Cacar Monyet<\/h2>\n\n\n\n<p>Beberapa langkah yang bisa dilakukan untuk mencegah penyebaran:<\/p>\n\n\n\n<p>\ud83d\uded1 Hindari kontak langsung dengan penderita atau hewan liar<br>\ud83e\uddfc Rutin mencuci tangan dengan sabun<br>\ud83d\ude37 Gunakan masker di tempat ramai<br>\ud83e\uddf4 Jaga kebersihan barang pribadi dan lingkungan<br>\ud83d\udea8 Laporkan ke layanan kesehatan jika muncul gejala mencurigakan<\/p>\n\n\n\n<h2 class=\"wp-block-heading\">Kesimpulan<\/h2>\n\n\n\n<p>Meski belum ditemukan di Indonesia, <strong>cacar monyet adalah penyakit yang berpotensi menyebar dengan cepat<\/strong>. Menjaga kewaspadaan, mengenali gejalanya sejak dini, dan menerapkan protokol kesehatan adalah langkah penting untuk mencegah infeksi. Dengan informasi yang akurat dan kesiapan yang tepat, kita dapat bersama-sama memutus rantai penyebaran penyakit ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Source: <a href=\"https:\/\/jadwal.rsabhk.co.id\" title=\"\">dr. Nanny Shoraya, Sp.KK, FINSDV, FAADV<\/a> &#8211; <a href=\"\/en\/\" title=\"\">RSAB Harapan Kita<\/a><\/p>\n\n\n\n<p><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Cacar monyet atau monkeypox menjadi perhatian global setelah kasus pertamanya muncul di luar Afrika pada pertengahan 2022. Meski bukan penyakit baru, monkeypox kini menyebar lebih luas dan menimbulkan kekhawatiran karena cara penularannya yang mirip dengan penyakit menular lain melalui kontak langsung dan droplet.<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":10872,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[82],"tags":[],"class_list":["post-520","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-artikel-kesehatan"],"aioseo_notices":[],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/520","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=520"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/520\/revisions"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media\/10872"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=520"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=520"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/rsabhk.co.id\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=520"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}